Bagi Bestari, koridor RS Bhayangkara adalah panggung untuk dedikasinya sebagai perawat, sekaligus tempat ia mempertaruhkan harga dirinya demi mengejar seorang pria. Padahal, deretan polisi dan perwira muda kerap kali mencoba mencuri perhatiannya, namun mata Bestari justru terkunci pada satu sosok: Lettu Arlan.
Arlan bukan pria dengan senyum ramah atau paras rupawan yang diagung-agungkan. Ia pria kaku yang menutup rapat pintu hatinya, selalu mengusir Bestari dengan kata-kata tajam, dan membalas setiap perhatian Bestari dengan tatapan sinis yang menusuk. Bagi Arlan, kehadiran Bestari hanyalah gangguan di tengah pengabdiannya yang sepi.
Namun, tembok yang dibangun Arlan ternyata memiliki fondasi yang menyakitkan. Sebuah rahasia masa lalu tentang seorang dokter-putri seorang Kapten-menjadi alasan mengapa Arlan enggan membiarkan siapapun masuk kembali. Saat Bestari akhirnya mengetahui bahwa ia bukan sekadar ditolak karena sifatnya, melainkan karena ia sedang melawan bayang-bayang masa lalu yang belum usai, ia memutuskan untuk berhenti. Bestari menyerah. Ia memilih mundur dari "lini depan" hati Arlan.
Titik balik datang ketika bumi berguncang. Di tengah puing-puing bencana yang meluluhlantakkan harapan, takdir mempertemukan mereka kembali sebagai relawan. Di sela-sela jeritan para korban dan debu reruntuhan, Arlan mulai melihat Bestari bukan sebagai gadis yang "berisik", melainkan sebagai satu-satunya orang yang bertahan saat semua orang pergi.
Di medan bencana yang penuh luka, mampukah Arlan merobohkan bentengnya sendiri? Ataukah Bestari yang justru sudah terlalu lelah untuk sekadar kembali menoleh?
All Rights Reserved