PRAGMATA(AFTER SCENE)-non canon

PRAGMATA(AFTER SCENE)-non canon

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 26, 2026
WpInfo
Fiction
Science Fiction
​"Di bulan yang sunyi, pengorbanan bukanlah akhir, melainkan awal dari konspirasi yang lebih gelap." ​Setelah pintu kapsul peluncuran tertutup dan Diana berhasil dikirim kembali ke Bumi, Hugh tetap terpaku di hamparan debu bulan yang dingin. Tak ada jalan pulang bagi sang astronot. Terinfeksi oleh Death Lunafillament, Hugh perlahan mulai kehilangan kesadarannya saat tubuhnya dipaksa menyatu dengan atmosfer bulan yang mematikan. ​Namun, di tengah detik-detik terakhirnya menunggu ajal, sebuah langkah kaki terdengar di permukaan yang seharusnya tak berpenghuni itu. ​Bukan Diana, bukan pula teknologi buatan Dr. Higgins. Sosok wanita dewasa dengan paras sempurna muncul dari balik bayangan kawah lunar. Dia adalah Debora, unit dengan kode seri AAA-Hum9033761000-sebuah tipe LunarCallist yang keberadaannya tidak pernah tercatat dalam sejarah misi Pragmata. ​Siapakah sebenarnya Debora? Apakah dia malaikat pelindung yang dikirim untuk menyelamatkan Hugh, atau justru android "Perfect Match" yang memiliki misi untuk memanen data dari penderitaan terakhir sang astronot? ​Di dunia di mana manusia dan mesin tak lagi bisa dibedakan, Hugh harus bertarung melawan waktu dan kewarasannya sendiri untuk mengungkap rahasia yang terkubur jauh di bawah permukaan bulan.
All Rights Reserved
#12
capcom
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝔈𝔱𝔥𝔬𝔩𝔬𝔤𝔶 𝔬𝔣 𝔇𝔦𝔰𝔰𝔬𝔠𝔦𝔞𝔱𝔦𝔬𝔫 || Jayhoon
  • Murid Sialan
  • Male lead Antagonist
  • TC: Teratai Putih Kembali Populer [END]
  • Sorry Mr. Husband (END)
  • The Butterfly's Mask: ( Jaeyong ) - END
  • I Am In Novel?!!

Sunghoon, seorang psikiater muda berbakat, mendapat tugas khusus dari dokter senior yang juga menjadi mentornya: menangani seorang pasien dengan Dissociative Identity Disorder (DID). Kasus ini bukan kasus biasa, pasien bernama Jay tersebut memiliki tujuh kepribadian berbeda, masing-masing dengan sifat, emosi, dan cara berpikir yang saling bertolak belakang. Awalnya, Sunghoon menganggap ini sebagai tantangan profesional semata. Namun, seiring sesi terapi berjalan, satu per satu kepribadian Jay mulai muncul, membuka lapisan demi lapisan trauma masa lalu yang selama ini terkubur. Setiap kepribadian membawa potongan cerita yang berbeda. Ada yang protektif, ada yang agresif, ada pula yang rapuh seperti anak kecil. Tanpa disadari, Sunghoon mulai terjerat lebih dalam. Ia menemukan bahwa trauma Jay memiliki keterkaitan dengan masa lalunya sendiri-sebuah benang merah yang seharusnya mustahil ada antara dokter dan pasien. Hubungan profesional perlahan berubah menjadi konflik batin yang rumit, mempertanyakan batas antara empati, tanggung jawab, dan rasa bersalah. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, sebuah plot twist besar mengguncang segalanya: hubungan antara Sunghoon dan Jay jauh lebih dekat daripada yang mereka bayangkan. Masa lalu yang terputus kini menuntut jawaban, dan proses penyembuhan tidak lagi hanya tentang Jay, tetapi juga tentang Sunghoon sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines