"Di antara deru senapan dan rintik hujan, ada denting yang menolak untuk bungkam."
-
Di bawah langit Buitenzorg yang hampir selalu basah oleh hujan, Sekar Ageng Larasati hidup dalam sangkar emas. Sebagai putri bangsawan Sunda, langkahnya diatur oleh tradisi dan mata-mata kolonial. Namun, jiwanya hanya bisa bernapas saat ia menanggalkan kebaya mewahnya, melarikan diri menembus rimbunnya hutan menuju sebuah gubuk tua milik ibu pengasuhnya. Di sana, hanya ada Sekar dan sebilah Kacapi Indung, tempat ia menumpahkan segala rindu dan kesedihan melalui dawai-dawai yang bergetar.
Ia mengira kesunyiannya aman, sampai suatu sore, melodi Kacapi itu tak sengaja tertangkap oleh telinga Julianne Frederic van Rijswijk.
Julian adalah Jenderal muda Belanda yang baru saja ditempatkan untuk menjaga ketertiban di wilayah tersebut. Pria itu dikenal dingin, kaku, dan tak tersentuh-simbol nyata dari kekuasaan penjajah yang menindas bangsa Sekar. Namun, di balik seragam militernya yang gagah, Julian membawa kehampaan yang tak bisa ia jelaskan. Hingga denting kacapi Sekar menyentuh hatinya, memberikan rasa "pulang" yang selama ini ia cari di tanah asing ini.
Tanpa berani menampakkan diri, Julian selalu kembali. Ia berdiri di balik pepohonan, tersembunyi oleh kabut dan aroma tanah basah, hanya untuk mencuri dengar alunan musik dari gadis yang seharusnya ia anggap sebagai "subjek jajahan".
Antara kawat berduri kekuasaan dan dawai lembut kacapi, tumbuh sebuah perasaan rahasia yang mustahil untuk bersatu. Julian mencintai sosok yang seharusnya ia taklukkan, sementara Sekar mencintai kebebasan yang direnggut oleh bangsa pria itu. Di kota yang berselimut hujan ini, mereka terjebak dalam melodi yang indah namun tragis, menunggu waktu hingga dawai terakhir putus oleh realita sejarah yang kejam.
-
- By Cardinalibraes
2026©
All Rights Reserved