Halo, Kanael!

Halo, Kanael!

  • WpView
    Reads 26,083
  • WpVote
    Votes 3,405
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 23 hours ago
Kecelakaan tragis sembilan tahun lalu telah merenggut paksa dunia Kanael, hanya menyisakan raga yang tumbuh dengan jiwa yang terperangkap di usia balita. Bertahun-tahun Kanael hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri. Menjadi pelampiasan amarah yang tak berujung, dan dianggap tak lebih berharga dari sekadar beban. Di rumah itu, Kanael belajar bahwa keluarga adalah awal dari rasa sakit. Namun, saat Kanael pikir dunia benar-benar telah berakhir, ia justru menemukan rumah yang sesungguhnya. Tempat di mana Kanael tak perlu lagi meringkuk gemetar di kolong tempat tidur yang dingin dan kotor. Tempat di mana rasa sakitnya tak lagi harus ditanggung dalam diam. Sebab di sana, ada tangan-tangan hangat yang bersedia mendekap kerapuhannya. Kanael menemukan keluarga yang tak akan melepaskan genggamannya, meski dunia terasa terlalu bising. [Start: 27 April 2026]
All Rights Reserved
#32
family
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To All The Sunsets We Missed
  • NOCTIS SOLARIS
  • Seatle Amour
  • Shadow (End)
  • ALL ABOUT DEVAN [slow up]
  • My True Feelings || Keonho w. Cortis✔️
  • Everyday Life of an Only Child
  • Saudara Baru
  • Buried Shadow [On Going]
  • Radeya's Evanescence

Kavi selalu percaya bahwa hidupnya masih membentang panjang. Di kepalanya, ia masih punya ribuan meter untuk berenang lebih jauh, jutaan tawa untuk dilepaskan lebih keras, dan sisa usia yang tak terhingga untuk menetap di dunia yang baginya terlalu indah untuk ditinggalkan. Sampai sebuah kalimat dari dokter menghantam dunianya, jantungnya tak lagi mampu mengejar waktu. Kavi dipaksa berhenti berlari saat ia baru saja hendak memulai. Menjelang usianya yang keenam belas, kematian bukan lagi hal yang menakutkan. Kavi sudah terlalu akrab dengan rasa sesak yang mencekik dan dinginnya ruang perawatan, hingga rasa takut itu perlahan luruh menjadi penerimaan. Namun, ada satu ketakutan yang tetap tinggal dan tak pernah bisa ia lepaskan, meninggalkan Sena. Sebagai kembaran yang lahir dan tumbuh dalam satu detak yang sama, bagi Kavi, membayangkan napasnya berhenti jauh lebih mudah daripada membayangkan Sena harus bernapas sendirian tanpa dirinya di sampingnya. Kavi mungkin sudah belajar cara berdamai dengan maut, namun ia tidak pernah tahu bagaimana cara meninggalkan separuh jiwanya tanpa rasa bersalah. Karena di akhir perjalanannya, luka yang paling perih bukanlah jantung yang membeku, melainkan membiarkan seseorang yang paling ia sayangi berjalan sendirian di dunia yang luas. #Brothership bukan bxb. Versi lain nya bisa di lihat melalui platform X @._keonholicc

More details
WpActionLinkContent Guidelines