Di tengah kota yang tidak pernah berhenti, Damar Surya Adiguna dan Nayla Pramudita Anindhita bertemu di waktu yang sama saat hidup terasa berat, arah belum jelas, dan masa depan seperti sesuatu yang terus menjauh.
Mereka saling menemukan.
Bukan sebagai jawaban, tapi sebagai tempat berhenti sejenak.
Di antara obrolan sederhana, kelelahan yang sama, dan mimpi yang belum selesai, perlahan tumbuh sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka rencanakan. Namun semakin dekat, semakin terlihat bahwa mereka tidak berjalan dengan cara yang sama.
Tidak ada yang sepenuhnya salah.
Tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan.
Hanya dua orang yang sama-sama belum selesai dengan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya, mereka dihadapkan pada satu pilihan yang tidak mudah bertahan dengan risiko saling melukai, atau melepaskan dengan kemungkinan tidak pernah kembali.
Waktu terus berjalan.
Tanpa perpisahan besar.
Tanpa kata-kata terakhir yang sempurna.
Hanya jarak yang perlahan terbentuk... sampai mereka tidak lagi berada di jalur yang sama.
Ini bukan cerita tentang dua orang yang akhirnya bersama.
Ini tentang dua orang yang pernah berjalan berdampingan dan memilih melanjutkan hidup di arah yang berbeda.
Karena pada akhirnya, mereka mengerti:
kita tidak berakhir, kita hanya berjalan ke arah yang berbeda.
All Rights Reserved