Kaluna dan Malam Tanpa Bintang

Kaluna dan Malam Tanpa Bintang

  • WpView
    Membaca 77
  • WpVote
    Vote 33
  • WpPart
    Bab 14
WpMetadataReadLengkap Jum, Jul 10, 2026
Tahukah kamu hal paling menyedihkan tentang orang yang berduka? Mereka tenggelam terlalu jauh dalam luka dan kehilangan, hingga lupa bahwa orang yang pergi tak pernah ingin yang ditinggalkan hidup dalam kehancuran. Orang yang tengah dilanda duka jelas tak akan menyadari hal itu. Begitu pula Kaluna. Ini bukan kisah dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Ini adalah kisah tentang bagaimana Kaluna belajar berdamai dan hidup berdampingan dengan rasa sakit yang selama ini menghancurkannya. Romance | Drama | Angst
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#63
broken
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan