"Di bawah lampu kota Yogyakarta, dua jiwa yang hancur mencoba mengeja arti pulang."
Jevanska Elvano Narendra adalah definisi dari badai yang nyata. Sebagai ketua geng motor Atheos, ia memerintah jalanan dengan raungan mesin dan tatapan yang mampu membekukan siapa pun. Berahang tegas, berwajah pahat sempurna, dan rambut comma hair yang selalu tertata rapi di balik helm full face-nya. Baginya, hidup hanya tentang kekuasaan dan aspal hitam. Ia tidak punya waktu untuk urusan perasaan, sampai sebuah insiden di lampu merah Malioboro mempertemukannya dengan seorang gadis yang berani menantang otoritasnya.
Arathea Kirana Kayastha adalah pelangi yang dipaksa muncul di tengah hujan yang tak kunjung reda. Cantik, lucu, dan selalu punya tawa paling ceria untuk semua orang. Namun, di balik binar matanya, Thea menyimpan luka yang ia sembunyikan dengan rapat. Ia adalah gadis malang yang sedang melarikan diri dari masa lalu, mencoba mencari ketenangan di setiap sudut kota Jogja yang ramah.
Satu orang dingin yang tak punya hati.
Satu orang hangat yang hatinya telah hancur berkeping-keping.
Malioboro menjadi saksi ketika deru mesin motor Jevanska mulai melambat hanya untuk mengikuti langkah kaki Thea. Di antara aroma bakpia, petikan gitar jalanan, dan kenangan-kenangan pahit yang perlahan terkuak, mereka sadar bahwa beberapa luka memang tidak untuk disembuhkan sendirian.
Apakah Jevanska mampu menjadi pelindung bagi Arathea? Atau justru, kehadiran Jevan hanya akan menambah goresan baru pada luka yang sudah ada?
"Sebab di Malioboro, kita bukan hanya bertukar cerita, tapi juga berbagi luka."
All Rights Reserved