Separuh Rumah

Separuh Rumah

  • WpView
    Reads 841
  • WpVote
    Votes 120
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 25, 2026
Keluarga Wijaksana memiliki segalanya. Kekayaan, usaha besar, dan rumah yang selalu hangat. Namun, satu bagian keluarga mereka hilang dan tak pernah kembali. Setelah kedua orang tua mereka tiada, lima bersaudara yang tersisa hidup dengan cara masing-masing. Hanya Rafi, si bungsu bertubuh lemah sekaligus saudara kembar Rafa, yang diam-diam terus merindukan sosok yang tak pernah ia kenal. Di sisi lain, Rafa tumbuh dengan nama baru di kerasnya kehidupan jalanan Jakarta. Saat takdir mempertemukannya kembali dengan saudara-saudara kandungnya di Yogyakarta, kebahagiaan datang bersama amarah, luka lama, dan pertanyaan besar. Bisakah seseorang kembali menjadi keluarga, setelah sekian lama menjadi orang asing? Sebuah kisah tentang kehilangan, penyesalan, dan cinta saudara yang tak pernah benar-benar putus-meski rumah itu sejak lama hanya tinggal separuh.
All Rights Reserved
#69
sedih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dandelion dalam Rembah Sandhya
  • We, The Unrelated
  • NOCTIS SOLARIS
  • ‹⟨ 𝚁𝚎𝚖𝚗𝚊𝚗𝚝𝚜 ⟩›
  • Lakuna Mahaga
  • Radeya's Evanescence
  • My Youth
  • To All The Sunsets We Missed
  • HIGANBANA
  • GALAETH

Jika harus memilih untuk terlahir kembali, mungkin Aksala akan memilih menjadi seonggok batu atau apapun itu asalkan bukan menjadi seorang Aksala Sastra yang harus menghadapi segala hiruk pikuk kebisingan dunia dan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berharap, menjadi batu agar bisa diam tenang di tempatnya. Hidup harus berjalan dengan tawa tanpa boleh terlewat satu hari pun. Sebuah moto dalam hidup Kanaka Langit yang selalu mengemis waktu kepada Tuhan. Yang selalu bernegosiasi agar bisa menghirup udara lebih lama. Yang selalu menaruh harapan tinggi agar esok masih dapat ia jumpai. Hidup memang tidak pernah adil. Itulah kenyataan paling kejam yang seringkali menghantam manusia. Tuhan memberikan banyak waktu pada seseorang yang rela memangkasnya tanpa peduli waktu itu akan segera habis. Sedangkan di sisi lain, Tuhan memberikan batas finish lebih cepat pada seseorang yang masih ingin terus berada pada garis lintasan. Hidup memang tidak pernah adil. Itulah gaung yang setiap hari muncul di kepala Aksala Sastra, tapi tidak pernah sekalipun muncul dalam kepala seorang Kanaka Langit.

More details
WpActionLinkContent Guidelines