Jika harus memilih untuk terlahir kembali, mungkin Aksala akan memilih menjadi seonggok batu atau apapun itu asalkan bukan menjadi seorang Aksala Sastra yang harus menghadapi segala hiruk pikuk kebisingan dunia dan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berharap, menjadi batu agar bisa diam tenang di tempatnya. Hidup harus berjalan dengan tawa tanpa boleh terlewat satu hari pun. Sebuah moto dalam hidup Kanaka Langit yang selalu mengemis waktu kepada Tuhan. Yang selalu bernegosiasi agar bisa menghirup udara lebih lama. Yang selalu menaruh harapan tinggi agar esok masih dapat ia jumpai. Hidup memang tidak pernah adil. Itulah kenyataan paling kejam yang seringkali menghantam manusia. Tuhan memberikan banyak waktu pada seseorang yang rela memangkasnya tanpa peduli waktu itu akan segera habis. Sedangkan di sisi lain, Tuhan memberikan batas finish lebih cepat pada seseorang yang masih ingin terus berada pada garis lintasan. Hidup memang tidak pernah adil. Itulah gaung yang setiap hari muncul di kepala Aksala Sastra, tapi tidak pernah sekalipun muncul dalam kepala seorang Kanaka Langit.
More details