Over the Moan

Over the Moan

  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 15, 2026
[ON GOING] [FOLLOW SEBELUM BACA UNTUK DAPAT NOTIF] "Lo gila?" Frederick mendesis pelan, menahan emosi dalam tenggorokan sambil menyentuh pipi yang mungkin akan lebam. "Elo yang gila!" balas Iori yang justru menggunakan oktaf tinggi. "Lo pikir gak sakit?! Ini letak otak gue. Lo emang mau banget gue di bawah lo ya, Frederick Moan?" Iori melanjutkan penuh ketajaman, seakan dalam setiap kata cewek itu terdapat belati. - Mereka akan terus seperti itu, hingga keadaan memaksa untuk berada di posisi berbalik. Mungkin akan berhenti, saat mereka menyadari bahwa kecerdasan adalah alat, bukan sekadar pajangan. Lunaire Iori : Akan berhenti menganggap ini sebagai kompetisi rutin. Frederick Moan : Akan berhenti menganggap ini sebagai kebetulan atas dendam pribadi. - Enemies -> Lovers Cerita ini mengandung perkataan kasar, kissing, dan juga yang berkaitan dengan 18+. Jadi bijaklah dalam membaca. Selamat membaca! -- Cover by : Me Started : 1 Mei 2026 End : Dimohon untuk Don't Judge By Cover. ⛔️ Last one, dimohon untuk Don't Copyright as Plagiat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines