Finding Home In You

Finding Home In You

  • WpView
    Membaca 56
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jun 12, 2026
Keputusan Bia tinggal bersama dengan seorang lelaki yang menjadi pacarnya memang bukanlah rencana hidupnya. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain, selain tinggal bersama lelaki tanpa status menikah atau menderita di rumah kedua orang tuanya. Bia terlalu lelah mengalah. Selama 25 tahun dia hidup, dia selalu mengalah hanya untuk kebahagiaan seseorang yang terlalu diprioritaskan. Selama itu pula Bia harus menelan kekecewaan, kepahitan dan memendam luka. Dan untuk terakhir kalinya Bia kembali mengalah, pergi meninggalkan rumah yang pernah memberi rasa aman itu. Maka, dia mengambil keputusan yang nekat. Tinggal bersama dengan lelaki selama dua tahun, meski sekarang hubungan mereka telah berubah menjadi mantan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Pesona Sang Juragan Sayur
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Gadis desa itu bernama Gendis
  • Om CEO, Aku Masih Sekolah! [END]
  • Almost Married (END)
  • Jikalau Kau Cinta (END)
  • Kita Nikah, Lo Istri Gue
  • HEARTSTRINGS
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan