Ada sebuah nama yang dulu pernah tumbuh diam-diam di dada Clarissa.
Nama sederhana dan lembut-Langita, perempuan yang memintal hidupnya dari garam laut, hujan, dan luka-luka yang tak pernah ia tunjukkan.
Langita adalah cahaya kecil di gubuk kayu desa pesisir, lampu yang ia nyalakan setiap malam seolah bisa memandu Clarissa pulang. Namun Clarissa tidak pernah benar-benar kembali.
Tidak ketika hujan menggigilkan tubuh Langita.
Tidak ketika ombak mencuri hangatnya perlahan.
Tidak ketika suara itu menjadi makin tipis.
Terseret dunia kota yang gemerlap, Clarissa mengejar masa depan yang semakin jauh dari pelukan masa lalunya, hingga ia lupa bahwa seseorang meredup di balik punggungnya.
Pada hari pernikahannya, saat gaun putih menggantung seperti doa asing yang tak ia pahami, sebuah kotak kecil tiba di tengah pesta. Tanpa hiasan, tanpa ucapan selamat, hanya kenangan berbau laut, sepucuk surat terakhir, dan selembar kertas yang memutus seluruh denyut hidup Clarissa:
Berkas kematian Langita.
Lutut Clarissa jatuh.
Gaun putihnya mengerut seperti kain duka.
Dan satu kalimat menggema menghancurkan seluruh dunia yang ia bangun:
"Aku tidak pulang... sampai ia pergi selamanya."
Di ruangan penuh cahaya palsu itu, Clarissa mengambil keputusan yang tidak diharapkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri:
Ia tidak akan menikah.
Tidak hari itu.
Tidak esok.
Tidak selamanya.
Sebab bagaimana seseorang bisa memulai hidup baru ketika ia baru sadar telah membiarkan cinta lamanya mati sendirian?
Sejak malam itu, Clarissa bukan lagi mempelai.
Tapi jenazah tanpa peti, tertinggal hidup dalam tubuh yang ia tidak inginkan, dipaksa bernapas oleh dunia yang kini terasa terlalu terang, terlalu bising, dan terlalu kosong tanpa Langita.
Clarissa akhirnya memahami satu hal:
Ia telah menghancurkan langit yang selalu menjaganya.
Dan kini, ia harus belajar bertahan
di bawah reruntuhan itu sampai akhir hayatnya.
Alle Rechte vorbehalten