Di balik rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, seorang anak tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan, bentakan, dan luka yang tak kasatmata. Ia menyaksikan retaknya hubungan orang tuanya sejak terlalu dini, kehilangan arti kasih sayang bahkan sebelum sempat memahaminya. Perceraian bukanlah akhir dari penderitaan-melainkan awal dari kesepian panjang yang diam-diam membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbiasa menahan, memendam, dan merasa tidak layak dicintai.
Saat dewasa, masa lalu itu tak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam bentuk hubungan-hubungan yang menyakitkan, pola yang berulang tanpa disadari, seolah luka lama terus mencari cara untuk hidup kembali. Harapan demi harapan runtuh, meninggalkan ruang kosong yang semakin dalam dan sunyi.
Hingga pada titik terendah dalam hidupnya, ketika lelah tak lagi bisa disembunyikan dan arah terasa hilang, ia memilih untuk mencari bantuan. Sebuah diagnosis-Major Depressive Disorder (MDD)-menjadi titik balik yang pahit sekaligus jujur. Bukan sekadar label, tetapi cermin dari semua luka yang selama ini ia abaikan.
Kini, ia dihadapkan pada pilihan yang tak mudah: terus tenggelam dalam trauma yang membentuknya, atau perlahan menghadapi diri sendiri-menerima luka, memaafkan masa lalu, dan belajar bahwa dirinya tetap berharga, bahkan ketika dunia tak pernah memberinya cinta yang utuh. Sebuah kisah tentang trauma masa kecil, lingkaran luka yang tak disadari, dan perjalanan sunyi menuju pemulihan.
Tentang bertahan, memahami, dan keberanian untuk sembuh-di tengah satu pertanyaan yang terus menggema: "Apakah semesta akan pernah berpihak padanya, atau ia yang harus menciptakan keberpihakan itu sendiri?"
Storry by : Sekarpuji07 dan April07
All Rights Reserved