When The Villain Called Me Mother
Elian tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seburuk itu.
Suatu malam, setelah membaca novel ABO tragis berjudul Blood Thorn, ia tertidur sambil mengutuk seluruh alur cerita yang menyiksa tokoh antagonisnya. Dalam novel itu, sang antagonis adalah alpha dingin dan psikopat bernama Lucien Aurelius-seorang pewaris konglomerat yang tumbuh tanpa kasih sayang lalu menjadi monster obsesif terhadap omega pemeran utama.
Dan penyebab semua tragedi itu... adalah ibunya sendiri.
Ibunya, Elian Aurelius, seorang omega yang terjebak dalam pernikahan politik dengan CEO muda terkenal, Kael Aurelius. Elian masih mencintai mantannya yang menghilang tanpa jejak dan menganggap kehamilannya sebagai "kesalahan". Ia membenci anaknya sejak lahir. Kael yang sibuk membangun kerajaan bisnis jarang pulang, membuat rumah mereka dingin tanpa cinta.
Lucien tumbuh dalam kesepian.
Dipukul kata-kata tajam.
Diabaikan.
Tidak pernah dipeluk.
Hingga akhirnya ia menjadi monster.
Dan di akhir novel, Lucien membunuh ibunya sendiri sebelum menghancurkan hidup pemeran utama.
Elian mengira itu hanya cerita.
Sampai ia terbangun di tubuh Elian Aurelius-tepat setelah melahirkan Lucien.
Saat melihat bayi kecil itu menangis di pelukannya, ingatan novel menyerbu kepalanya. Masa depan berdarah. Kebencian. Pembunuhan.
Namun semuanya belum terlambat.
Karena cerita baru saja dimulai.
Kali ini, Elian bersumpah akan mengubah takdir anaknya.
Ia akan mencintainya sepenuh hati.
Melindunginya dari kesepian.
Dan memastikan Lucien tidak pernah tumbuh menjadi monster.
Masalahnya... mengubah anak antagonis ternyata jauh lebih mudah dibanding menghadapi suaminya sendiri.
Kael Aurelius-alpha dominan yang dingin, sibuk, dan sulit ditebak-perlahan mulai berubah sejak melihat Elian yang berbeda dari sebelumnya.
Dan semakin Elian berusaha menghindari tragedi, semakin ia menyadari satu hal:
Mungkin selama ini Kael tidak pernah benar-benar tidak peduli.