Queen Alexa

Queen Alexa

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
"Membuat onar tidak akan merubah kamu menjadi hebat Alexa!" bentak Danuel. "Membuat onar ataupun tidak, papa nggak akan melihat aku!" Sentak Alexa. "Tidak harus membuat onar untuk terlihat Alexa!" Bentak Danuel lagi. "Lalu apa? Aku harus menjadi lemah? Menjadi anak yang nggak berguna!?" Sentak Alexa semakin kencang. "Membuat masalah hanya membuat kamu semakin tidak berguna Alexa" ucap Danuel memelan namun penuh kemarahan. "Memang kapan aku pernah berguna di mata papa?" Tanya Alexa penuh tekanan. Danuel hanya terdiam menatap buas pada putrinya. "AKU GAK PERNAH BERGUNA!!" bentak Alexa lalu melemparkan bekas kaleng minuman yang masih di pegangnya.
All Rights Reserved
#210
chaos
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines