Sansakerta Juni pernah mengira bahwa dirinya berarti kemurnian cinta yang dikukuhkan dengan hormat. Sebab Ibu bilang, ia dilahirkan dengan segenap kasih sayang di tengah-tengah musim panas bulan Juni yang mendadak mendapat air hujan. Lalu semenjak itu, Juni kira ia akan menjadi seorang anak yang bisa mengabadikan sebuah bahagia dalam seumur hidupnya. Tetapi ketika Juni beranjak dewasa, segalanya hancur secara tiba-tiba. Ia terlalu bodoh untuk sekadar mengelak bahwa hidup bukan hanya tentang senang, namun Juni juga terlalu kaget dengan sebuah masa depan. Dari situ ia paham, bahwa segala hal bisa saja berubah di luar dugaan. Juni sadar, ternyata ia lahir dari hujan badai dan petir menyambar. Bukan dari kasih sayang dan kesetiaan. Juni bagai kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Mimpi-mimpinya kehilangan peta. Ia tidak punya arah untuk kembali melangkah. Juni hanya membiarkan dirinya merapah tanpa tujuan. Lalu di tengah-tengah gelapnya perjalanan, dari kejauhan Juni melihat seseorang datang dengan cahaya di kedua bola matanya. Juni terkesan. Namun, apakah itu hanya sesaat? Atau takdir yang telah tertulis untuk menghapus padam di hidupnya? ©️Nay, 2026
Detail lengkap