DUNIA LILY

DUNIA LILY

  • WpView
    Reads 246
  • WpVote
    Votes 55
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 4, 2026
Dahulu, Ratu Aralie berhasil menyatukan Kerajaan Panas dan Kerajaan Dingin dalam kedamaian bunga yang indah. Namun, fajar perdamaian itu redup saat Kumbanala muncul membawa api kehancuran. Kerajaan Bunga runtuh, sang Ratu lenyap, dan Putri Lily yang baru berusia enam tahun terpaksa dilarikan ke pengasingan. Empat belas tahun kemudian... Lily tumbuh dalam penyamaran sebagai gadis desa penjual kue yang sederhana. Di bawah pengawasan Kapten Delyn, ia belajar mengubur identitasnya sedalam mungkin. Di dunia yang sekarang dikuasai tirani Kerajaan Panas, memiliki kekuatan adalah hukuman mati. Namun, takdir tak bisa disembunyikan selamanya. Sebuah insiden di toko kue memicu ledakan cahaya dari tangan Lily, kekuatan yang seharusnya sudah punah. Kini, Lily bukan lagi sekadar gadis pelarian; ia adalah buronan nomor satu yang diincar Kumbanala bersama tiga jenderal andalannya. Lana si Petir, Levi si Lava, dan Regie si Api. Bersama Kapten Delyn dan sekutu-sekutu tak terduga, yakni Erine dari Hutan Senja hingga Oline dari Kerajaan Es, Lily harus menempuh perjalanan mustahil mencari Pedang Putih, satu-satunya senjata yang mampu menebas kutukan Liontin Iblis, sumber kekuatan Kumbanala. Dapatkah seorang gadis yang mengaku dirinya "cengeng" memikul beban seluruh dunia? Ataukah cahaya di tangannya justru adalah kunci bahwa kehidupan yang damai itu masih ada??
All Rights Reserved
#15
lilyjkt48
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Bartender
  • THE WORLD OF THE MARRIAGE
  • RECKLESS
  • Ku Dengannya Kau Dengan Dia
  • Tempat Orang Kalem(HIATUS)
  • Eleanor Dance Clas (Gen12)
  • ONESHOTS JKT48
  • Di Antara Jujur dan Bertahan [END]
  • Cerita Cinta Remaja
  • NXDE : mini series [ frelana-rine ] END.

Sang Bartender berdiri di balik konter marmer hitam yang dingin. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya mengamati setiap detail kecil. Baginya, bar ini bukan sekadar tempat untuk mabuk; ini adalah ruang pengakuan dosa tanpa pendeta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines