Suatu Hari Di Bandung

Suatu Hari Di Bandung

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 1, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ;)] SUATU HARI DI BANDUNG *Bandung, 1993.* Langit baru pindah ke Komplek Anggrekk Tengger setelah Ayahnya dipindahtugas dari Jakarta. Anak SMA 5 yang pendiam, kerja sambilan di Toko Buku Merdeka, dan percaya bahwa beberapa orang harus jatuh dulu biar pantas ditolong. Shafinara Kayla, panggilannya Ara. Anak SMA 3, pembenci hujan, pembaca puisi Sitor Situmorang, dan tetangga depan rumah baru Langit. Katanya, hujan bikin Komplek Anggrekk jadi terlalu sunyi. Dan terlalu jujur. Mereka ketemu bukan di Gang Merdeka. Tapi di depan pagar rumah, pas Ara kehujanan karena jemuran lupa diangkat. Langit tidak nawarin payung. Dia cuma narik jemuran bareng Ara, lalu bilang: "Kalau dari awal aku payungi kamu, kamu nggak akan tau rasanya narik jemuran bareng orang asing." Sejak itu, Komplek Anggrekk Tengger jadi tidak sama lagi. Ada surat diselipin di kotak koran. Ada telepon diem-diem dari wartel. Ada buku Perahu Kertas yang halaman 17-nya tertekuk dan ditulisi pensil "Jatuh itu tidak apa. Asal ada yang narik jemuran bareng kamu." Ini tentang Langit, Ara, Komplek Anggrekk Tengger, kaset Nike Ardilla, dan kenapa hujan di Bandung 1993 rasanya... beda.
All Rights Reserved
#687
wattpadid
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GRAVARENZO
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.

[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Gravarenzo Kairos Ferdezeus. Meski berwajah datar pemuda tampan yang menjabat sebagai Ketua geng DrakeZeus itu memiliki pembawaan yang tenang. Namun justru ketenangan itulah yang menjadi sumber ketakutan terbesar bagi banyak orang, membuat siapa pun berpikir dua kali untuk berani mengusiknya. Tapi tidak bagi perempuan yang satu ini. Alih-alih gentar untuk mendekat, ia justru menerobos. Meski sadar bahwa perasaan cintanya kerap berakhir dengan penolakan, ia tak pernah memilih untuk menyerah. Hingga akhirnya, sebuah kesempatan hadir, membuka awal baru yang tak pernah disangka oleh keduanya....

More details
WpActionLinkContent Guidelines