Raylene Kemuning Dyaksa tumbuh dalam kasih sayang yang besar, namun terasa janggal. Sejak kecil, ia tinggal bersama Oma Dwiastanti Dyaksa, neneknya yang sangat lembut dan penyayang. Meskipun Oma Dwiastanti ditugaskan untuk menjaga Raylene dengan aturan kesehatan yang sangat ketat dan disiplin-semua demi memastikan tubuh Raylene tetap sempurna-tak jarang Oma melonggarkan aturan itu secara sembunyi-sembunyi agar cucunya bisa sedikit merasakan kebebasan. Satu-satunya hal yang paling disyukuri Raylene adalah hubungannya dengan sang kakak, Caroline. Meski Cara sangat rapuh karena Leukimia, Cara adalah orang yang paling memanjakan Raylene. Tidak ada rasa iri, hanya ada kasih sayang tulus di antara mereka. Bagi Raylene, saat-saat bersama Cara atau saat Cara berkunjung ke rumah Oma adalah momen paling bahagia di tengah kesibukan tugas akhir sekolahnya yang melelahkan. Di sisi lain, ada Mahier Athalasena Prajasa, sahabat sejak SD yang selalu ada di setiap fase hidup Raylene. Mahier adalah satu-satunya orang yang tahu betapa bingungnya Raylene akan posisinya di keluarga Dyaksa. Di saat Raylene merasa "diasingkan" dari rumah utama orang tuanya, Mahier hadir sebagai sandaran yang membuatnya merasa berharga. Namun, di balik semua kenyamanan dan kasih sayang itu, sebuah kenyataan pahit menanti untuk terungkap. Raylene tidak pernah tahu bahwa program bayi tabung yang melahirkannya adalah sebuah misi medis. Ia tidak tahu bahwa alasan ia harus tetap sehat dan "disterilkan" di bawah pengawasan Oma adalah karena ia adalah satu-satunya penyambung nyawa bagi Caroline. Ketika hari yang ditentukan itu tiba, Raylene harus menghadapi kenyataan: bahwa cintanya pada sang kakak dan alasan eksistensinya di dunia ini ternyata adalah dua hal yang saling bertolak belakang.
More details