Deadly Attraction

Deadly Attraction

  • WpView
    Reads 37,913
  • WpVote
    Votes 6,584
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 30, 2026
Bagi Sakura, menjadi salah satu bagian dari anggota Kepolisian di New York City adalah impiannya sejak remaja. Satu-satunya anggota wanita yang berhasil menyandang gelar istimewa. Kelompok Detective Elite First Grade, terdiri dari beberapa orang berkompeten yang sudah ahli dalam bidangnya. Kasus narkoba, pembunuhan, bahkan kelompok mafia besar-besaran adalah makanan sehari-harinya. Turun langsung ke lapangan, bertemu wajah-wajah asing, sindikat kelas berat, bahkan lebih banyak lagi. Tetapi, ketika iris matanya berhadapan langsung dengan sosok pria tinggi yang kini menjadi buronan kelas dunia. Sakura bergeming, ia bungkam, sementara tubuhnya mematung sempurna, terlebih ketika pria berbadan besar itu berbalik dan memberinya seulas senyuman nostalgia. "Hello ... Officer." Mantan kekasihnya yang kini berubah menjadi buronan kelas kakap, sosok dingin yang berhasil membuat setengah New York City bungkam. "Uchiha Sasuke?" All main characters: Naruto © Masashi Kishimoto Deadly Attraction © Miinami | 2026
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines