Unhappy Marriage

Unhappy Marriage

  • WpView
    Reads 114,273
  • WpVote
    Votes 6,140
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 19, 2026
‼️SEGERA TERBIT‼️ Merasa bahwa tak akan pernah ada cinta untuknya, Hana memilih meninggalkan Nathan dengan membawa serta benih yang sama sekali tak diinginkan oleh Nathan. Namun, baru tujuh tahun berpisah, Hana harus kembali pada mantan suaminya itu untuk memohon agar Nathan mau merawat anaknya, setidaknya sampai anaknya bisa mencari uang sendiri. Hal itu dikarenakan ekonomi Hana yang begitu sulit, membuatnya ketakutan anaknya tak bahagia dan memilih menyerahkan anaknya pada Nathan yang bergelimang harta. Sayangnya, semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Nathan menolak permohonan Hana, kecuali Hana menunjukkan bukti bahwa anak yang dibawa Hana adalah anak biologisnya.
All Rights Reserved
#190
sedih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines