"Enggak Vin, lu tuh gak bisa suka sama gua." - Zea.
Ravindra Baskara, atau yang kerap dipanggil Ravin, adalah seorang polisi yang sudah bertugas selama kurang lebih 3 hingga 4 tahun. Dia adalah polisi yang cukup lihai dalam meringkus banyak penjahat. Namun, sikapnya yang pendiam dan selalu tidak enakan justru membawanya ke dalam sebuah kasus besar: menangkap seorang pembunuh berantai berdarah dingin bernama Seraphina Zea.
Zea dijuluki sebagai "The Crimson Puppeteer" karena ciri khasnya yang selalu menggantung tubuh targetnya yang sudah tak bernyawa di atas langit-langit ruangan.
Sialnya bagi Ravin, pembunuh berantai itu adalah teman lamanya saat masih sekolah dulu. Dan melihat dari deretan semua korban, hampir semua orang yang Zea habisi adalah mereka yang dulu merundungnya, serta orang-orang yang hanya diam membiarkan perundungan itu terjadi. Dari sanalah Ravin menarik kesimpulan yang mengerikan: Cepat atau lambat, dia juga pasti akan menjadi target berikutnya.
Namun, di saat Ravin sedang memutar otak mencari cara untuk menjebak Zea, bel pintu apartemennya mendadak berbunyi. Ketika pintu dibuka, sosok Zea sudah berdiri di sana menunggunya.
Zea langsung mencoba menyerangnya secara brutal. Tapi dengan kemampuan bicaranya, Ravin entah bagaimana berhasil membuat Zea percaya bahwa dia juga menaruh dendam mendalam kepada teman-teman mereka di masa lalu. Sejak malam itu, demi menyamar sebagai "mata-mata", Ravin terpaksa harus terus menyaksikan teman-teman sekolahnya mati dengan cara yang sangat mengenaskan.
Namun, sebuah masalah baru yang jauh lebih berbahaya justru muncul. Ravin perlahan malah menaruh hati pada sosok pembunuh tersebut. Zea telah mengisi kekosongan di dalam hidupnya yang selama ini terasa hampa.
Kini, di ujung semua darah dan kebohongan ini, Ravin harus dihadapkan pada satu pilihan mutlak: Menuntaskan pekerjaannya sebagai penegak hukum, atau mempertahankan sosok penjahat yang telah berhasil membuatnya merasa nyaman?
All Rights Reserved