"Gua kangen Aleya," lirih Zergan memecah keheningan. Zeandra yang sejak tadi asyik dengan ponselnya sontak menoleh. Ia mematikan layar benda pipih itu, menyimpannya, lalu menghela napas panjang seolah jengah. "Mau sampai kapan lo terus-terusan mikirin Aleya, Zer?" tanya Zeandra datar. Sorot mata Zergan mendadak tajam. Pemuda itu bangkit dari duduknya, melangkah lebar menghampiri Zeandra, lalu mencengkeram kerah baju saudaranya itu dengan kuat. "Lepas," desis Zeandra, sedikit terkejut namun berusaha menutupi kepanikannya. Bugh! Alih-alih melepaskan, kepalan tangan Zergan justru melayang tanpa ampun ke wajah Zeandra. Sudut bibir Zeandra langsung terasa kebas. "LO LUPA APA GIMANA, SIALAN?! ALEYA ADIK KITA!" bentak Zergan tepat di depan wajah Zeandra. Suaranya bergetar menahan amarah yang meledak. "Kenapa dengan gampangnya lo ngomong gitu?" Zeandra membalas tatapan tajam itu tanpa gentar, lalu tersenyum miring. "Lo yang lupa, Zer? Aleya udah merusak semuanya. Dia emang pantas pergi."
More details