Too Late to Love (END)
Prolog
"Truth or dare?"
Gelak tawa bergema di ruangan privat sebuah kelab malam di Tokyo. Botol kaca yang berputar di atas meja berhenti tepat menunjuk ke arah pemuda berwajah dingin di ujung sofa.
"Bukankah akan membosankan kalau kau memilih truth, Tuan Muda?" goda seorang rekan dengan nada memprovokasi.
Yuki Ishikawa-putra tunggal konglomerat paling berpengaruh di sekolah-menyesap minumannya santai. Senyum angkuh terukir di bibirnya. "Dare."
Sorak-sorai riuh seketika pecah. Salah seorang temannya melempar foto seorang pemuda berwajah manis dengan tatapan polos yang selalu menyendiri di kelas sebelah.
"Tiduri Ran Takahashi. Bawa buktinya sebelum semester ini berakhir, dan taruhan ini jadi milikmu."
Bagi Yuki, Ran hanyalah target mudah. Sebuah permainan gengsi yang terlalu sederhana. Namun, ia tak pernah mengira bahwa di tengah kepura-puraan manis yang ia rancang, hatinya justru terjerat sungguhan.
Sampai hari kelam itu tiba.
Ran berdiri membeku di balik pintu loker sekolah, mendengarkan gelak tawa Yuki dan teman-temannya yang merayakan kemenangan taruhan mereka. Di dalam genggaman Ran yang gemetar hebat, teremas erat sebuah surat medis yang baru diterimanya pagi ini: sebuah hasil tes kehamilan.
Tanpa konfrontasi, tanpa jeritan histeris, Ran melangkah pergi. Hari itu juga, ia menghilang dari kota tanpa menyisakan jejak-membawa luka hancur dan janin mungil yang mulai bernapas di dalam tubuhnya.
Saat Yuki menyadari tempat tinggal Ran telah kosong dan menemukan bukti taruhan yang ditinggalkan di mejanya, kepanikan luar biasa menghantam dadanya. Untuk pertama kalinya, sang Tuan Muda Ishikawa meraung memanggil satu nama dalam penyesalan yang terlambat.
Ia telah memenangkan taruhannya, namun kehilangan seluruh dunianya.