The Way You Looked at Me First
Alaric Nadhira selalu percaya pada hal-hal kecil, tatapan, senyum, dan momen yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain.
Jadi ketika ia ikut temannya ke lapangan basket sore itu, ia tidak menyangka apa-apa.
Ia hanya berdiri di pinggir lapangan, setengah memperhatikan permainan, setengah lagi sibuk mengobrol.
Sampai tanpa sadar, matanya berhenti pada satu orang.
Masagus Arkana Wijaya Kedaton.
Arkana tidak terlihat seperti yang Alaric bayangkan.
Ia tertawa lepas, bermain santai, dan yang paling membuat Alaric bingung, ia terus tersenyum.
Bukan senyum formal atau dibuat-buat, tapi yang ringan, tulus, dan...hangat.
Dan sejak itu, Alaric tidak benar-benar melihat yang lain.
Ia bilang pada dirinya sendiri ini cuma kebetulan.
Cuma sekali lihat. Cuma karena bosan.
Tapi tetap saja, matanya selalu kembali ke Arkana.
Sampai akhirnya, di satu momen yang terasa terlalu singkat dan terlalu lama di waktu yang sama, Arkana menoleh ke arahnya.
Mata mereka bertemu.
Dan Arkana tersenyum.
Bukan senyum besar, bukan sesuatu yang mencolok, tapi cukup untuk membuat dada Alaric terasa sesak dengan cara yang aneh.
Seperti...sapaan.
Dan di saat itu juga, Alaric tahu ia dalam masalah.
Karena jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Dan pikirannya, tanpa izin, sudah mulai berharap, bagaimana kalau Arkana melihatnya lagi?