Tepat pukul tujuh malam, di jam sibuk di salah satu bandara terbesar di Indonesia, bersamaan dengan dua jadwal keberangkatan menuju Mekkah dan kedatangan dari Los Angeles.
Setelah keluar dari gerbang kedatangan, Gerald sedikit terkejut dengan suasana bandara yang sangat ramai. Ia kemudian ber-oh saat melihat kerumunan jamaah umrah.
"Mbah Kung, namaku Venus. Ingat ya, Ve-nus."
"Iya, Nduk."
Mendengar nama yang tak asing, Gerald langsung menoleh ke arah suara, namun ia tak berhasil menemukan gadis bernama Venus di dalam kerumunan, di mana mereka semua memakai seragam dengan motif yang sama.
Gerald kemudian mengangkat bahu, mencoba untuk tidak peduli. Mungkin dia salah dengar. Memangnya nama Venus hanya satu orang di negara sebesar ini?
"Antara!"
Seseorang melambaikan tangan dengan penuh semangat dan memasang senyum terbaik. Namun, Gerald menatap tajam saat mendengar Keenan memanggilnya dengan nama tersebut.
"Maaf, kebiasaan," ujar Keenan sambil tersenyum kikuk dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ada info terbaru?"
"Barusan dia terbang ke Jeddah. Memangnya tadi nggak ketemu?"
Mendengar jawaban tersebut, Gerald berhenti sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Lalu, tanpa peringatan, ia berlari ke arah sebaliknya.
"Eh, mau ke mana?!"
Tak ada jawaban.
Seakan dunia berhenti berputar. Tak ada suara, tak ada manusia lain. Hanya ada dirinya dan sosok perempuan yang berdiri di depan sana.
Kini semuanya terasa begitu dekat hanya satu langkah lagi agar semuanya kembali seperti dulu. Ini adalah kesempatan terakhir. Hanya ada dua pilihan, mengambil risiko atau hidup dalam penyesalan.
Namun, semakin dekat ia melangkah, kakinya terasa semakin berat. Pandangannya mulai kabur. Meski begitu, hatinya terus memaksa untuk maju.
Tepat sebelum semua penumpang masuk ke garbarata pesawat, mata Gerald terhenti pada sosok seorang gadis yang menggandeng seorang kakek.
"Venus?" Gerald menarik lengan baju gadis di depannya dengan penuh keyakinan.
All Rights Reserved