Let Me Pay for Your Silence

Let Me Pay for Your Silence

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 23, 2026
. . . Itu adalah awal musim panas. Musim yang membuat langit bersinar lebih cerah, birunya hampir transparan, seolah bisa retak jika disentuh. Angin berhembus sejuk, menari pelan bersama awan-awan putih yang malas bergerak. Burung-burung menggambar lengkung tipis di cakrawala. Bagi sebagian orang, itu hanya hari biasa. Selasa yang kebetulan cerah. Tapi bagiku, lebih dari itu. Itu adalah awal yang tak kusangka akan menjadi kisah panjang antara kita. Titik nol yang tidak kutandai di kalender, tapi tubuhku mengingatnya. Detik ketika bayanganmu jatuh di trotoar yang sama dengan bayanganku. Ketika napasmu tercampur di udara yang sama dengan napasku. Kau mungkin lupa. Tidak... mungkin kau bahkan tak pernah menyadarinya. Karena hari itu, di bawah langit yang cerah, di tengah lalu-lalang orang berjalan, di antara deru kota yang tidak peduli-momen yang kita habiskan tanpa mengenal nama satu sama lain. Tanpa tatap mata. Hanya dua orang asing. Momen yang lebih sering disebut suatu kebetulan. Momen yang membutakan. Membutakan karena terlalu terang, terlalu biasa, sampai tidak ada yang sadar bahwa takdir sedang menekan tombol _start_. --- #jikook/koomin
All Rights Reserved
#43
army
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MUKTI AGUNG
  • TUNANGAN ANTAGONIST GILA
  • Sialan, Ko Jadi Gini?! [END]
  • ENVELOVE
  • After the Fall
  • Bodyguard Salah Alur
  • PERIHELION
  • Tsundere Maniak Susu
  • Halo Gus!!
  • The Lost Cael (Selesai)

(Manipulatif, redflag) Terjadi penggerebekan di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota, para warga desa berbondong-bondong mendatangi sebuah rumah saung yang terletak ditengah hamparan sawah yang ditumbuhi jagung. Laura berusaha menjelaskan, bahwa tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Mukti di rumah saung itu, namun tidak ada satupun yang mempercayai ucapannya, bahkan kedua orang tuanya pun tak percaya. Diam-diam, Mukti tersenyum melihat keputusasaan Laura, mungkin dikampung ini, hanya gadis itu yang tau bagaimana gilanya dia. "Rantai bernyawa ini, bakal susah dilepasin neng." bisik Mukti di telinga Laura.

More details
WpActionLinkContent Guidelines