Sang Penari dan Dalang Bayang-Bayang
Di sebuah desa tua di lereng Gunung Lawu, hidup seorang penari tari klasik Jawa bernama Raras Panji Kusuma. Sejak kecil, ia mampu melihat bayangan-bayangan yang tak dapat dilihat orang lain-arwah leluhur yang sesekali muncul saat gamelan dimainkan.
Suatu malam Selasa Kliwon, saat menarikan Tari Gambyong dalam upacara bersih desa, Raras bertemu dengan seorang dalang muda misterius bernama Jatmika Jayengsari. Dalang itu terkenal karena kemampuannya memainkan wayang semalam suntuk tanpa naskah, seolah para tokoh wayang hidup dan berbicara melalui dirinya.
Namun, warga desa tidak tahu bahwa keluarga Jatmika merupakan penjaga warisan kuno Kejawen yang telah turun-temurun menjaga sebuah pusaka bernama Cermin Bayang Sukma. Konon, cermin itu dapat memperlihatkan ikatan jiwa dari kehidupan lampau.
Ketika Raras tanpa sengaja menyentuh pusaka tersebut, ia melihat masa lalu yang mengejutkan: dirinya dan Jatmika ternyata pernah hidup ratusan tahun lalu sebagai abdi keraton yang terpisah oleh takdir tragis.
Sejak saat itu, dunia mereka perlahan berubah.
Tarian Raras mulai memanggil roh-roh leluhur.
Wayang Jatmika mulai bergerak sendiri saat tengah malam.
Dan sebuah ramalan kuno yang telah lama tersembunyi mulai terbangun kembali.
Di antara petuah leluhur, malam-malam beraroma kemenyan, dan lantunan tembang Jawa yang menyayat hati, dua jiwa yang pernah terpisah oleh kematian harus memilih:
Mengikuti jalan takdir lama...
Atau menulis kisah baru mereka sendiri.