Mereka bertemu dengan cara yang tidak seharusnya terjadi.
Tempat yang salah. Waktu yang salah. Alasan yang tidak ada satu pun dari mereka mau akui - bahkan ke diri sendiri.
Pertemuan yang canggung, situasi yang harusnya bikin malu, dan seharusnya selesai sampai di situ. Dilupakan. Dianggap tidak pernah ada.
Tapi tidak.
Abram, Zidan, Rayan - tiga nama. Tiga luka yang masing-masing dibawa dalam diam, disimpan rapat-rapat di tempat yang tidak ada yang tahu lokasinya. Tidak ada yang tahu milik siapa yang paling berat, karena tidak ada yang pernah benar-benar bicara. Begitulah cara mereka bertahan: tutup mulut, jalan terus, dan senyum kalau perlu.
Pura-pura baik-baik saja sudah jadi bahasa pertama mereka.
Dan kemudian ada Muthia.
Satu-satunya orang yang - entah bagaimana - tidak pura-pura tidak melihat.
Bukan karena ia mencari. Bukan karena ia berniat jadi siapa-siapa buat mereka. Tidak ada niat mulia, tidak ada misi tertentu. Hanya karena ia ada - di waktu yang tepat, dengan cara yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Dan sayangnya, hal-hal seperti itu tidak pernah bisa benar-benar selesai hanya dengan berbalik badan.
All Rights Reserved