PKL Cortis

PKL Cortis

  • WpView
    Reads 350
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 21, 2026
"yaahh bu kok sama mereka sih?" keonho "lah lu pikir gue mau PKL sama lu??? KAGA!" seonghyeon "brisik banget sih" juhoon Mereka gak nyangka kalo yang awalnya suka saling ribut di sekolah, eh pas pkl malah jadi teman satu kelompok dan harus hidup bareng di mess buat beberapa waktu kedepan. "aduhh apes banget gue" james "sabar ya kak" martin "lu juga salah satu dari mereka" james "hehe" martin *** untuk isi cerita, nama akan di sesuaikan lagi dengan alur. Thankyou!
All Rights Reserved
#16
horror
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Setiap Orang Ada Masa Nya -Enhypen
  • Happy || Seonghyeon ft.Cortis
  • Nowhere Home
  • RESPONSIBILITY
  • See You Again Prince
  • LIVEING TOGETHER - cortis
  • family cortis
  •  DASHED HOPES
  • 𝐃𝐞𝐞𝐩 𝐏𝐮𝐧𝐜*𝐮𝐫𝐞
  •  °Tongkrongan Gacoer°    {on going}

tujuh sahabat, dipersatukan oleh luka, bukan tawa. Selalu berselisih, tapi tak bisa lari. mereka menelan pahitnya hari, bersama-dalam diam yang penuh amarah. mereka, tujuh jiwa yang saling bersandar dalam diam. masing-masing menyembunyikan luka yang dalam-tak ingin dikasihani, tak ingin membebani. mereka tertawa di luar, tapi tenggelam perlahan di dalam. Karena bagi mereka, menjadi beban adalah luka yang lebih menyakitkan dari apapun. di antara tujuh sahabat itu, ada dua lelaki Riki dan Sunoo yang selalu tersenyum paling lebar, seolah dunia tak pernah menyakitkan. tapi di balik tawa mereka, tersembunyi kenyataan pahit: rumah tak pernah jadi tempat pulang. Mereka tak pernah benar-benar dianggap oleh keluarga, hanya bayangan yang berjalan di sela harapan yang hancur. Ceria mereka adalah topeng, dan luka yang mereka pendam... terlalu dalam untuk bisa diceritakan. mereka bertujuh, seolah kuat, seolah utuh. tapi di balik tawa yang mereka bagi, tersembunyi kesunyian yang tak pernah selesai. entah luka dari keluarga, cinta yang tak pernah kembali, atau perasaan tak pernah cukup, masing-masing menyimpan perangnya sendiri. tak satu pun yang bersuara, seakan takut menyusahkan. Mereka memilih diam, karena bagi mereka, membebani orang lain adalah dosa yang lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines