MISTERI ASRAMA KEMBAR
Aku tidak takut pada cerita hantu, atau bangunan tua.
Aku takut pada keheningan.
Asrama Kecamatan adalah tempat yang menyimpan napas puluhan perantau. Selama enam bulan pertama kuliah, suara tawa dan gesekan sendal di koridor adalah jaminan bahwa aku tidak sendirian, meskipun kamar paling ujung di lantai atas terasa seperti sarang terpencil.
Tetapi, saat liburan semester tiba, keheningan datang menyerbu.
Malam itu, pukul dua dini hari, ketika aku yakin hanya aku yang tersisa di seluruh gedung Asrama Putri, aku mendengar tawa. Bukan tawa kawan-kawan sekamar yang usil, melainkan tawa renyah seorang perempuan, tepat di luar pintu kamarku. Suaranya terdengar bahagia, seolah sedang asyik bercerita di telepon.
Keesokan paginya, realisasi itu datang menusuk, lebih dingin dari lantai keramik yang kuinjak. Semua orang sudah pergi. Aku adalah satu-satunya manusia di sana.
Jika aku sendirian...
lalu, siapa yang tertawa bersamaku di kegelapan? Dan mengapa suara itu terdengar begitu **hidup**?