We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Pertemuan Itu

Pertemuan Itu

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 4, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Jika ada pertemuan tentu ada perpisahan. Namun bolehkah aku menepis fakta itu sebentar? Aku ingin bicara lebih banyak tentang pertemuan dan melupakan tentang perpisahan. Karena bagiku perpisahan tidak pernah meninggalkan kesan manis. Kala itu aku sedang mengunjungi toko yang sudah sangat familiar bagiku, mencium aroma buku yang sebagian lembarnya sudah menguning. Mencari buku yang menarik perhatianku hingga aku melupakan kekacauan dikepalaku untuk sementara. Dia berdiri di sana, mengambil buku dari rak atas. Tersenyum manis layaknya bukan pecandu sendu. Binar redup yang menyimpan sejuta luka yang sayangnya sama seperti ku. Ini awal dari sebuah kisah ini, kisah kami yang ditulis dengan sepenuh hati dengan tawa dan tangis. Ini awal. Ini pertemuan kami.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines