Spilled Strawberry Milk
Di balik layar ponselnya, Alin terbiasa tenggelam dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri.
Malam-malamnya dipenuhi notifikasi, pesan singkat, dan percakapan yang terasa hangat, namun tak pernah benar-benar tinggal. Ia bermain dalam dunia yang penuh godaan, mencari rasa yang bisa mengusir sepi, walau hanya sementara. Sentuhan kata-kata, perhatian sesaat, dan ketertarikan yang dangkal... semuanya terasa manis di awal, tapi cepat hambar.
Sampai akhirnya, Alin mulai bosan.
Bosan dengan percakapan yang berulang. Bosan dengan rasa yang tidak pernah benar-benar sampai.
Hingga suatu malam, di antara banyaknya pesan yang masuk, ada satu yang terasa berbeda.
Bukan dari mereka yang biasa.
Dari seorang perempuan.
Awalnya hanya rasa penasaran.
Namun semakin lama, ada sesuatu yang berubah.
Cara mereka berbicara... lebih pelan.
Lebih dalam.
Lebih terasa.
Untuk pertama kalinya, Alin tidak hanya merasa "diinginkan" tapi juga dilihat.
Dan di sanalah semuanya dimulai,
sebuah rasa yang tidak lagi sekadar manis di permukaan,
melainkan perlahan meresap, seperti strawberry milk yang tidak bisa dipisahkan antara rasa dan kehangatannya.