The Wrong Prince
Bagi Lami, nama "Pangeran" adalah sebuah legenda yang sering ia dengar di sela-sela gosip kantin. Katanya, ada anak kelas sepuluh yang ketampanannya luar biasa. Lami yang belum pernah melihat wajahnya pun mulai berasumsi. Di kepalanya, sosok bernama Pangeran tentulah seseorang dengan wajah teduh, rapi, dan berperilaku santun. Itulah alasan kenapa Lami menjatuhkan pilihannya pada Ryan. Baginya, Ryan adalah manifestasi paling nyata dari nama "Pangeran".
Sore itu, dengan keberanian yang ia kumpulkan, Lami mencegat langkah Ryan di koridor yang mulai sepi. Sambil menahan napas, ia berseru dengan penuh keyakinan.
"Pangeran!"
Namun, cowok yang ia panggil tetap melangkah lurus tanpa menoleh sedikit pun. Ryan tentu tidak merasa terpanggil karena itu memang bukan namanya. Di tengah kebingungan karena diabaikan, Lami justru mendapati seseorang yang sedang bersandar di pilar perlahan mengubah posisinya.
Seorang cowok dengan seragam yang berantakan, pemilik asli nama Pangeran-menoleh ke arahnya.
Itu adalah kali pertama Lami melihat wajah Pangeran yang asli. Sosok di depannya ini sama sekali tidak teduh. Ia punya aura tajam yang liar dan tatapan intimidasi yang sanggup membuat siapa pun merinding. Namun, Lami tidak bisa berbohong; visual Pangeran yang asli justru menghantamnya jauh lebih telak daripada dugaannya selama ini.
Lami terpaku. Otaknya mendadak macet saat menyadari dua hal... ia selama ini memuja orang yang salah, dan pemilik nama Pangeran yang asli ternyata jauh lebih memukau dengan cara yang berbahaya.
"Manggil gue?" tanya Pangeran pelan, suaranya berat dan penuh selidik.
Kaget karena salah orang, malu karena ketahuan, sekaligus terpesona pada pertemuan pertama itu membuat Lami kehilangan fungsi logikanya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik arah dan lari secepat mungkin, meninggalkan Pangeran yang hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung.