Maka demikianlah kata Sachdev kepada Rajustha, "Biarkanlah tidak ada lagi orang-orang Maharesh berduka lagi. Tidak ada orang benar yang diam saat dififnah. Tak ada lagi saudara yang dipandang musuh. Tidak ada lagi orang yang menangisi nasibnya sebab kepunyaannya direnggut. Tidak ada lagi rasa benci yang dipupuk diam-diam. Sebab kesedihan itu miris rasanya. Bangun pagi adalah kesialan bagi orang bernasib demikian. Maka janganlah kamu, Ratu Maharesh--isteri kecintaan Bramswara Maharesh--perlu bertakdir demikian."
Rajustha bertabur air mata, dia menatap Sachdev, "Sudah kau alami semua itu, Sachdev!"
Sachdev berucap, "Maka doaku sudah terlambat, seharusnya sedari lampau aku berdoa demikian!"
Sachdev terkekeh, matanya berpedih tiba-tiba. Air mata menyusulnya lagi. Dia menangis lagi. Pria itu menangis lagi.
Tapi dia tertawa, seperti seseorang yang mendengar gurauan malaikat maut. Lucu, tapi menyedihkan.
Rajustha meletakan dahinya di bahu Sachdev. Ia tersedu-sedu di situ. Seperti Drupadi yang menangisi nasib Basudewa Khrisna yang Dwaraka-nya hendak tenggelam.
"Aku baik, sebab aku ditakdirkan demikian, Rajustha."
"Sungguh malunya aku, berkeluh pada pria yang bernasib tak adil sepertimu. Suamiku pernah menghukummu dan kepunyaanmu selalu kau bagi pada suamiku. Tapi lisanmu tak seramai aku dan dirinya! Aku malu!"
Sachdev menggeleng, "Aku sudah menerima takdirku ini, Rajustha. Pada mulanya aku sendiri menerima menjadi pelindung suamimu. Aku lebih menaruh kasihan padamu! Kau hanyalah puteri pembisnis kayu yang kaya-raya. Tapi nasibmu naas! Kau di sini menjadi ratu yang seharusnya bersukacita! Namun sebaliknya, kau amat menderita! Kau korban politik kerajaan berpolemik ini..Tak seharusnya kau menelan takdir ini, Rajustha!"
--
All Rights Reserved