DUA TINGKAT, SATU DETAK

DUA TINGKAT, SATU DETAK

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2026
'DUA TINGKAT, SATU DETAK'* Welinda yang nyapa duluan. Anka yang jatuh duluan. Welinda juga yang mundur duluan. Di tangga sekolah, jarak mereka cuma tiga anak tangga. Tapi buat Anka, jarak itu lebih jauh dari tiga tahun nggak ketemu. Dulu Welinda lari tiga langkah buat bilang "Hai". Sekarang dia pasang tiga lapis dinding biar Anka nggak denger detaknya yang berantakan. Katanya, kalau cewek udah jaga jarak, cowok harus ngerti. Anka nggak mau ngerti. Dia cuma mau mastiin Welinda lari karena takut, bukan karena nyesel pernah nyapa. Jadi Anka diem di bawah. Nggak maksa. Nggak ngejer brutal. Cuma naikin satu anak tangga tiap hari, sambil nungguin Welinda berani turun. Karena katanya, cinta itu butuh dua orang. Tapi versi mereka: cinta itu butuh satu orang yang lari, dan satu orang lagi yang cukup sabar buat nungguin dia pulang. --- *_Tentang cewek yang lari dari detaknya sendiri, dan cowok yang cukup sabar buat nungguin dia pulang.__ *Status*: On Going *Genre*: Romance, School Life, Slow Burn, Angst *Warning*: Siap-siap senyum-senyum sendiri di tangga. Bisa juga nendang guling.
All Rights Reserved
#1
geniusboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines