"Kamu masih dengan dia?"
Keyra menoleh cepat. "Siapa?"
"Yang tadi malam." Nada suaranya tetap datar. Tidak berubah seolah gejolak perasaan itu disimpan begitu apik di lubuk hatinya.
"Oh... Vano?" Ia kembali menatap ke depan. "Iya."
"Putuskan."
Keyra langsung menoleh lagi, kali ini benar-benar kaget. "Hah?"
Tatapan Gavin tetap lurus ke jalan. Seolah ia hanya mengatakan sesuatu yang sederhana. "Putuskan," ulangnya.
Keyra mengerjap beberapa kali, lalu tertawa kecil tidak percaya. "Mas ini... serius?"
"Iya."
Jawaban yang terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya tidak wajar.
Keyra menggeleng pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Nggak masuk akal."
"Dimananya tidak masuk akal?" Gavin bertanya sambil menoleh sekilas. "Saya tidak suka kamu dekat dengan laki-laki mana pun."
Dan justru itu yang membuat Keyra semakin ingin membantah. "Mas bahkan udah nikah sama Kakak aku lho, Mas. Masa aku nggak boleh pacaran?"
"Status saya tidak membuat kamu jadi bebas dari saya."
Keyra membelalak. "Aku bisa gila." Ia benar-benar tidak bisa mengontrol bahkan untuk dirinya sendiri. "Vano itu baik, Mas," lanjutnya membela diri, kali ini lebih mantap. "Serius. Dia tuh tipe cowok yang kalau chat nggak pernah cuma 'hmm' doang. Dia bisa nanya kabar, bisa dengerin, bisa ketawa juga."
Ia melirik sekilas, memastikan Gavin mendengar.
"Dan yang paling penting," tambahnya, sedikit menekankan, "dia nggak tiba-tiba nyium orang di parkiran tanpa aba-aba kayak orang kehilangan arah hidup."
"Kalau saya beri aba-aba, kamu akan menolak?" pertanyaan itu jatuh begitu saja, tepat mengenai sasaran yang membuat lidah Keyra kelu seketika. "Atau kamu tetap akan diam seperti tadi?"
**
CERITA INI EKSLUSIF HANYA ADA DI DREAME YA 🥰
Kalian bisa cari pakai namaku di app Dreame,
Mika Moussel atau *tulis judulnya* 🙏
All Rights Reserved