MARGA SANDYA  - TBA

MARGA SANDYA - TBA

  • WpView
    Reads 82
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing<5 mins
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 6, 2026
Di bawah debu proyek Tol Trans Jawa, Mario yang kaku dan teratur terpaksa berbagi ruang dengan Gede, operator alat berat asal Bali yang liar dan tak terduga. Perbedaan kasta dan prinsip membuat mereka terjebak dalam gesekan ego yang panas di tengah gersangnya KM 120. Namun, di balik dinding bedeng yang tipis dan aroma dupa yang mistis, ada rahasia yang mulai terbangun lebih dalam dari pondasi beton mana pun. Antara kebencian dan tarikan gairah yang terlarang, sanggupkah mereka menyelesaikan proyek ini tanpa menghancurkan satu sama lain? Sebuah kisah tentang ambisi, keringat, dan cinta yang tumbuh di tempat paling keras.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nyekar
  • hikayat rumah kembang sepatu
  • mendamba dara
  • Babad Karang Satru
  • Menantuku menjadi Tuanku
  • KANCING GELUNG (21+)
  • memeluk dara
  • 𝗔 𝗩 𝗔 𝗡 𝗬 𝗔 : 𝓣𝓱𝓮 𝓜𝓲𝓼𝓼𝓲𝓷𝓰 𝓦𝓪𝓻𝓶𝓽𝓱
  • Mendera  Dara
  • the eternity origins : KKN karang Satru
Nyekar

Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai staf rumah tangga kepresidenan, Senja kembali ke kampung halamannya di Magelang. Tak ada alasan besar. Tak ada pengumuman. Ia hanya ingin menziarahi makam kedua orang tuanya, menata bunga, membersihkan nisan, dan memberi waktu pada dirinya sendiri untuk diam. Magelang menyambutnya tanpa kejutan. Rumah lamanya masih berdiri di timur alun-alun, dengan pintu kayu yang berderit dan debu yang mengendap seperti waktu yang tak pernah benar-benar berjalan. Di kamar tidurnya yang sempit dan sunyi, Senja menemukan sebuah kotak sepatu tua di bawah ranjang-dan di dalamnya, selembar surat. Surat yang pernah ia tulis, bertahun-tahun lalu, kepada seseorang yang pernah mengguncang hatinya dalam diam: Kilat Kidung Swargaloka, teman masa seminari yang membuatnya meragukan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Mereka tidak pernah saling mengucap. Tidak pernah saling bersentuhan lebih dari kata-kata di kelas atau bisikan doa malam. Tapi dalam surat itu, Senja sempat menulis apa yang tak pernah berani ia ucapkan. Kini, membaca ulang tulisan tangannya sendiri, Senja tak mencari pengampunan atau penjelasan. Ia hanya mencoba memahami kenapa hal-hal kecil yang tertinggal bisa terasa lebih tajam dari kehilangan itu sendiri. "Nyekar" bukan kisah tentang pertemuan. Bukan tentang cinta yang sempat mekar dan layu. Tapi tentang keberanian untuk kembali, untuk mengingat, dan untuk meletakkan sesuatu yang lama tertahan di tempat yang lebih tenang. Ini adalah perjalanan pulang yang tanpa peta, hanya didorong oleh perasaan bahwa sesuatu di masa lalu belum selesai-dan barangkali tak harus diselesaikan, cukup diterima.

More details
WpActionLinkContent Guidelines