Hujan turun tipis malam itu ketika seorang lelaki asing duduk di ujung halte tua, menawari payungnya pada gadis yang bahkan tidak ia kenal namanya. Tidak ada pertanyaan tentang asal-usul, tidak ada rasa curiga-hanya dua orang lelah yang kebetulan berteduh di kota yang sama. Mereka berbicara sampai lampu jalan mulai padam satu per satu, tertawa seolah dunia tidak sedang retak oleh perebutan kekuasaan yang membelah seluruh negeri. Dan di antara percakapan sederhana tentang kopi pahit, mimpi masa kecil, serta langit malam yang terlalu gelap, keduanya tidak pernah menyadari satu hal: bahwa nama keluarga mereka berdiri di dua sisi perang yang saling ingin menghancurkan. "Aturan pertama untuk bertahan hidup di kota ini," ucap lelaki itu sambil tersenyum kecil, "jangan pernah percaya siapa pun." Gadis di depannya terkekeh pelan. "Kalau begitu, kenapa kau memberiku tempat berteduh?" Lelaki itu diam sesaat sebelum menjawab, "Karena untuk pertama kalinya, aku ingin melanggar aturan." Mereka belum tahu bahwa beberapa minggu lagi, nama mereka akan disebut dalam ruang rapat yang sama-sebagai musuh. Mereka bertemu sebagai dua orang asing. Jatuh cinta sebagai dua manusia biasa. Lalu dipaksa saling membenci sebagai pewaris kekuasaan yang tak pernah mereka pilih sendiri. Di pesta penuh topeng itu, Dio tidak tahu bahwa perempuan yang menabraknya hingga sampanye tumpah di jas hitamnya adalah putri dari keluarga yang selama ini ingin dijatuhkan ayahnya. Sedangkan Aina tidak tahu bahwa lelaki bermata tenang yang membantunya bersembunyi dari keramaian adalah nama yang paling dibenci keluarganya. Malam itu, mereka hanya saling mengenal sebagai seseorang yang membuat dunia terasa lebih hangat. Sampai akhirnya takdir membuka topeng mereka satu per satu.
More details