Dia tidak punya siapa-siapa. Bukan suami, bukan tetangga, bahkan bukan harapan.
Dewi, janda muda berusia 30 tahun, mengasingkan diri di gubuk reyot di tengah hutan paling ujung Jawa. Suaminya mati. Warga desa memfitnah. Setiap malam ia duduk di bibir sumur tua, berbicara pada bintang, meratapi rahimnya yang kosong. Namun suatu malam, angin berhenti. Aroma tanah basah menyengat. Buto Ijo-raksasa hijau pemakan manusia yang ditakuti seantero desa-muncul dari balik pepohonan.
Bukan untuk memakannya.
Raksasa itu mengulurkan telapak tangan. Di tengahnya ada sebutir benih kecil berwarna keemasan, berdenyut hangat seperti jantung.
"Kau harus menanamnya sendiri ke dalam rahimmu. Gunakan jarimu."
Tanpa paksaan. Tanpa janji. Tanpa ancaman. Hanya rasa kasihan yang pertama kali dirasakan raksasa itu sejak anaknya mati seratus tahun lalu.
Dewi mengambil benih itu. Sendirian di tengah malam, dengan lampu minyak kelapa yang hampir padam, ia menekan benih ke pusarnya. Benih meleleh menjadi cairan emas, meresap ke dalam, menancap di dinding rahim. Sakit sesaat. Tapi setelahnya, ia merasakan kehidupan kecil mulai berakar.
Sembilan bulan berlalu tanpa tetangga, tanpa bidan, tanpa siapa pun. Dewi mengandung sendiri, melahirkan sendiri di tengah hujan deras, dan menyusui bayi perempuan dengan rambut keemasan yang ia beri nama Timun Mas.
Cerita ini bukan tentang kejaran maut. Bukan tentang kantong ajaib berisi garam atau jarum. Ini tentang seorang ibu yang menanam anaknya sendiri ke dalam rahim, merawatnya di tengah sunyi, dan membesarkannya hingga usia enam tahun tanpa pernah melihat bayangan raksasa itu lagi.
Buto Ijo pergi. Dan tidak pernah kembali. Yang tersisa hanyalah seorang ibu dan anaknya, dua perempuan yang saling memiliki, di gubuk bambu yang bocor namun terang oleh cahaya keemasan.
"Sebuah dongeng tentang kesepian yang melahirkan, raksasa yang memilih kasihan daripada lapar, dan seorang wanita yang tidak lagi sendirian."
All Rights Reserved