Helm Hiu [On Going]

Helm Hiu [On Going]

  • WpView
    Reads 979
  • WpVote
    Votes 104
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 8, 2026
Apdett sesuai muud! 🙂‍↕️💐 ❛❛Berawal dari melihatnya di jalan, berujung ingin memilikinya di masa depan.❜❜ Gista Kamaya tak pernah menyangka, bahwa pertemuan singkat di pinggir jalan itu akan mengenalkannya pada dunia yang selama ini tak pernah ia jamah. Awalnya, ia hanyalah sosok asing yang tak sengaja tertangkap mata---seseorang yang Gista pikir tidak akan pernah ia temui lagi. Tidak ada obrolan panjang yang puitis. Tidak ada peristiwa besar yang dramatis. Semuanya terasa biasa saja, sampai semesta mulai bermain dengan caranya sendiri. Namun, tatapan kecil, kebetulan demi kebetulan, dan perasaan yang tumbuh diam-diam mulai membuat semuanya terasa berbeda. Tentang seseorang yang awalnya hanya sekadar lewat... lalu perlahan menjadi alasan untuk menetap. Start : 15 Mei 2026 End : # The third story 🦋 © Anowly_
All Rights Reserved
#8
arga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines