Sejak prahara di rumah meruntuhkan duniaku, aku terpaksa melangkah ke aspal jalanan dan memulai debut sebagai penumpang bus kota. Di sanalah aku menemukan Roqi-titik terang di tengah remang halte pagi. Sosok jangkung yang ketenangannya membungkam hiruk-pikuk kota, bagiku setidaknya.
Roqi adalah teka-teki yang tak seharusnya ada di sini. Ia memiliki binar yang seharusnya milik kursi beludru mobil mewah, bukan tempat bagi debu untuk menjamah. Lewat candaan kopi dan skenario imajiner yang manis, aku mencoba meruntuhkan tembok di antara kami. Hingga perlahan, bus ini berubah menjadi ruang rahasia; tempat di mana aku bisa menanggalkan luka dan menjadi siapa saja. Kami menciptakan surga kecil dari bualan manis dan tawa yang dicuri.
Namun, bus ini memiliki tujuan, dan dunia kami memiliki batas. Saat mesin menderu, aku mulai meragu; apakah ia benar-benar sebuah rumah untukku pulang, atau sekadar penumpang yang tengah menunggu jadwal keberangkatan?
[Tamat]
All Rights Reserved