Lalisa Manoban - JENLISA [G!P]

Lalisa Manoban - JENLISA [G!P]

  • WpView
    Bacaan 11,177
  • WpVote
    Undian 1,703
  • WpPart
    Bahagian 20
WpMetadataReadCerita Lengkap Isn, Jun 29, 2026
Lalisa Manoban. Nama yang tak tertulis. Dia Manoban tapi namanya tidak ada di silsilah. Dan itu alasan Jennie menolaknya. Dan Lisa memiliki satu tujuan; membuat Jennie kembali ke sisinya. Atau menghancurkannya.
Hak Cipta Terpelihara
#173
jenlisa
WpChevronRight
Jom sertai komuniti bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang diperibadikan, simpan cerita kegemaran anda ke dalam Pustaka anda, serta beri komen dan undi untuk mengembangkan komuniti anda.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Hello, KKN!
  • CHASING MAFIA LOVE-JENLIM
  • INTO YOU - JENLISA [G!P]
  • silent love behind the wheel - jenlisa G!P 21+
  • UNSPOKEN II - JL (g!p)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • the enemy i desire - jenlisa G!P 21+
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Back To You | JL
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Nala dan Mas Juragan
  • THE IDOL - JL (g!p)
  • PLAYERS | JL
  • Shadows of Desire (JENLISA) G!P
  • Be My Wife
  • Beautifully Flawed (JENLISA•GIP!)
  • My Celestia [ON GOING]

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Maklumat lanjut
WpActionLinkGaris Panduan Isi