Di tengah negara yang dipenuhi aturan timpang, korupsi yang dianggap biasa, dan kekuasaan yang diwariskan seperti barang pribadi, hidup lima anak dari keluarga pengusaha paling berpengaruh justru terasa seperti penjara. Mereka lahir di puncak kemewahan, dibesarkan dengan fasilitas tanpa batas, tetapi kehilangan satu hal yang paling penting: kebebasan menentukan hidup mereka sendiri.
Sejak kecil, mereka dipaksa mengikuti jalan yang sudah ditentukan keluarga. Semua gerak mereka diawasi, semua keputusan mereka diatur demi menjaga nama besar perusahaan dan kekuasaan para orang tua mereka. Di luar, negara terlihat maju dengan gedung tinggi dan teknologi canggih. Tapi di balik itu, rakyat hidup di bawah sistem yang rusak, penuh manipulasi, sensor, dan ketidakadilan yang sengaja dipelihara demi keuntungan para elite.
Kelima anak itu awalnya hanya diam dan mengikuti arus. Namun semakin dewasa, mereka mulai melihat kenyataan yang selama ini disembunyikan dari mereka. Mereka menyaksikan bagaimana perusahaan keluarga mereka ikut mempermainkan hukum, memanfaatkan rakyat kecil, bahkan bekerja sama dengan pemerintah untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka sadar bahwa kehidupan mewah yang mereka nikmati dibangun di atas penderitaan banyak orang.
Rasa muak perlahan berubah menjadi kemarahan.
Mereka bukan sekadar remaja pemberontak yang ingin melawan aturan karena ego. Mereka memberontak karena sadar bahwa sistem negara sudah terlalu busuk untuk dipertahankan. Mereka menolak menjadi penerus generasi yang hanya memikirkan uang, kekuasaan, dan citra palsu.
Di tengah kekacauan, pengkhianatan, dan tekanan dari seluruh sisi, lima anak itu terus berjalan dengan satu tujuan yang sama: menghancurkan sistem lama dan membangun dunia yang tidak lagi dikendalikan oleh ketakutan, uang, dan kekuasaan semata.
Karena bagi mereka, kebebasan bukan sesuatu yang diberikan. Kebebasan harus direbut.
saya melampiaskan kemarahan saya dengan karakter di dunia nyata tapi sifatnya fiksi
All Rights Reserved