Mengapa Dunia Harus Tidak Sempurna?

Mengapa Dunia Harus Tidak Sempurna?

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 8, 2026
"Tak harus menjadi sempurna, terkadang menjadi biasa saja jauh lebih damai dari apa yang dibayangkan." . Seperti selembar daun kering yang berlubang di sana-sini, kita semua membawa cacat yang kita sembunyikan dari mata dunia. Kita malu pada rapuh, kita takut pada layu. Namun, bukankah pohon tetap indah justru karena daunnya tak pernah ada yang serupa? ​Di sini, kamu akan menemukan kumpulan refleksi tentang realita yang sering kali pahit, namun jujur. Tentang melepaskan beban untuk menjadi "luar biasa" dan mulai belajar mencintai detak jantung yang biasa saja. Selamat datang di sebuah ruang untuk merayakan kegagalan. . Sebuah perjalanan psikologis tentang: •Mengapa kesedihan itu perlu. •Mengapa retakan adalah tempat cahaya masuk. •Dan mengapa menjadi biasa saja adalah kemewahan tertinggi. . Publikasi: 8 Mei 2026
(CC) Attrib. NonComm. NoDerivs
#69
recommended
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • merry a rich men || QIUXING
  • The Child He Left Behind (FOXYPAN)
  • 𝑳𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒈𝒖 : 𝐸𝑁𝐻𝑌𝑃𝐸𝑁 巛ˢⁱⁿᶜᵉ₂₀₂₀
  • COOL BOY AND NEET CRAZY GIRL  [fatqeel]
  • First Love, Not the First
  • My Moon And Mood Spirit
  • HOME
  • Leonids
  • THE HEIR OF SIN (FOXYPAN)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines