Fajar telah terbit di rumah keluarga Aryo. Lintang telah kembali. Taksa sudah menerima semua takdir dan melangkah maju berbarengan dengan Lintang, Wasnaa yang semakin tumbuh dewasa di tengah limpahan kasih sayang ayah dan semua kakak nya.
Setelah bertahun-tahun bergelut dengan maut dan kesakitan yang menghancurkan fisiknya, ia akhirnya mendapatkan kesempatan kedua untuk merajut mimpi di bangku perkuliahan. Namun, dunia luar ternyata jauh lebih kejam daripada dinginnya ruang ICU.
Di kampus, Lintang bukan lagi "pahlawan" yang berhasil bertahan hidup; ia hanyalah sasaran empuk bagi mereka yang menganggap kelemahannya sebagai lelucon. Perundungan demi perundungan yang ia terima secara diam-diam mulai meretakkan pertahanannya, membangkitkan trauma lama yang lebih gelap, dan menumbuhkan luka baru yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyum pucatnya di meja makan.
Namun, Lintang bukan satu-satunya yang menyimpan rahasia.
Di sudut rumah yang sama, Nanda mulai meredup seperti senja. Tanpa diketahui oleh Ayah Aryo, Hanan, maupun saudara lainnya, ginjal tunggal yang tersisa di tubuhnya mulai menyerah. Demi menjaga tawa yang baru saja kembali ke rumah mereka, Nanda memilih memikul rasa sakitnya sendirian, hanya berbagi beban dengan Ayin dan Ziersan dalam balutan dialisis yang melelahkan.
Ketika Lintang berjuang untuk tidak kembali tenggelam dalam traumanya, Nanda justru perlahan kehabisan napas dalam keheningan.
Arunika memang telah datang, namun mereka lupa bahwa fajar selalu memiliki batas, dan semburat senja yang indah seringkali menjadi pertanda akan datangnya kegelapan yang lebih pekat. Akankah keluarga Aryo sanggup bertahan saat menyadari bahwa ketika mereka semua sibuk menjaga satu nyawa agar tidak hilang, nyawa yang lain justru sedang bersiap untuk pergi?
All Rights Reserved