Satu Persatu Aku Sembuhkan Diriku

Satu Persatu Aku Sembuhkan Diriku

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 8, 2026
Satu Persatu Aku Sembuhkan Diriku ini bukan buku tentang bagaimana menjadi kuat setiap hari. Ini adalah buku tentang hari-hari ketika kamu merasa rapuh, dan bagaimana kamu tetap memilih untuk bertahan. Lewat kisah-kisah nyata yang ditulis dengan hati, buku ini adalah perjalanan pulang ke dalam diri. Tentang luka masa kecil, trauma yang diam-diam mengendap, cinta yang tak sampai, hingga pencarian akan arti diri, rumah, dan bahagia. Amaliya menuliskan semuanya tanpa topeng, tanpa upaya untuk tampak sempurna. Hanya kejujuran dan keberanian untuk bilang, "Aku pernah sakit, dan aku sedang berusaha sembuh." Untuk siapa pun yang pernah merasa tidak cukup, untuk hati yang kelelahan, dan untuk jiwa-jiwa yang sedang belajar bangkit: kamu tidak sendiri. Mari sembuh perlahan, satu persatu.
All Rights Reserved
#266
jurnal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tumbuh Dengan Luka
  • CEO AND HIS LITTLE SECRETARY
  • I LOVE YOU MISS (GXG)
  • THE HEIRESS 1975
  • tumbuh tanpa terlihat
  • Mas Masinis
  • A MASTERPIECE OF TRAGEDY ✓
  • SANGGAR GSKY🐎
  • STEP SISTER
  • the protective myhusband

Dulu, Devan adalah kebanggaan. Kini, ia tak lebih dari sesosok "serangga" yang kehadirannya tak diinginkan. Satu insiden di masa kecil meninggalkan bekas luka di wajahnya, sekaligus menghapus namanya dari hati kedua orang tuanya. Di rumah, ia diabaikan; di sekolah, ia dihina sebagai monster. Devan tetap tegak meski badai cacian menghantamnya setiap hari. Namun, di balik ketegarannya, Devan menyimpan rahasia yang mematikan. Ada bom waktu bernama kanker otak dan sumsum tulang belakang yang perlahan merenggut nyawanya. Devan memilih bungkam, membiarkan rasa sakit itu menjadi rahasia antara dirinya dan bi Inah, satu-satunya orang yang masih menganggapnya manusia. Ketika waktu Devan kian menipis, akankah keluarganya sadar bahwa mereka telah membuang permata yang hampir redup? Ataukah penyesalan baru akan datang saat Devan benar-benar tak lagi ada? "Jangan cari aku saat aku sudah tak ada, karena saat itu, lukaku sudah benar-benar sembuh."

More details
WpActionLinkContent Guidelines