Di kampung nelayan miskin bernama Hilir Nadi, hidup berjalan mengikuti pasang laut dan utang yang tidak pernah lunas. Di tempat itu, orang-orang lahir dalam kemiskinan, lalu perlahan belajar menerima bahwa mimpi bukan untuk mereka.
Deru tidak pernah bercita-cita besar. Ia hanya seorang nelayan kecil yang hidup dari laut, rumah kayu lapuk, dan perempuan bernama Salma yang membuat hidupnya terasa hangat. Namun semuanya berubah ketika Salma meninggal saat melahirkan putri mereka, Nada.
Di malam yang sama, Deru menyadari sesuatu yang ganjil: bayi kecil itu tidak menangis ketika petir menggelegar tepat di atas rumah.
Tahun-tahun berlalu, dan Nada tumbuh sebagai anak tunarungu di tengah lingkungan yang keras dan sempit. Di kampung yang percaya bahwa keterbatasan adalah aib, Nada menjadi sasaran ejekan dan belas kasihan yang menyakitkan. Namun di balik diamnya, ia menyimpan kecerdasan yang perlahan membuat ayahnya percaya bahwa putrinya pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Maka dimulailah perjuangan panjang seorang ayah miskin melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada laut: kemiskinan, utang, sistem sosial yang busuk, dan dunia yang tidak memberi tempat bagi orang-orang kecil.
Deru rela mengorbankan tubuhnya, harga dirinya, bahkan hidupnya sendiri demi menyekolahkan Nada. Sementara Nada tumbuh dengan perasaan bersalah karena menyadari bahwa setiap mimpinya dibayar oleh penderitaan ayahnya sedikit demi sedikit.
Suara yang Tidak Pernah Sampai adalah kisah tentang cinta yang tidak banyak diucapkan, tetapi hidup dalam tangan yang kasar, makanan yang sengaja tidak dimakan, dan tubuh yang perlahan hancur demi seseorang yang dicintai.
Sebuah novel keluarga yang sunyi, getir, dan manusiawi- tentang ayah dan anak perempuan, tentang orang-orang miskin yang dipaksa tetap kuat, dan tentang suara-suara yang tidak pernah benar-benar didengar dunia.
All Rights Reserved