Nyaris Terlihat

Nyaris Terlihat

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2026
Sejak ibunya meninggal karena kecelakaan, hidup Keenan Vrezianda tak pernah benar-benar baik. Dijauhi keluarga dan dianggap sebagai penyebab kesialan. Di tengah badai yang terus datang, hanya ada satu-satunya tempat Keenan merasa diterima, yaitu Syaquel Aftannisa, sahabat dekatnya. Sayangnya, perasaan Keenan tak lagi sekedar persahabatan. Ia mencintai Syaquel dalam diam, sementara gadis itu justru mengejar seseorang yang sulit mengembalikan perasaannya. Diantara cinta yang bertepuk sebelah tangan dan hubungan keluarga yang semakin rumit, Keenan harus menghadapi kenyataan bahwa terkadang orang yang paling tulus justru menjadi yang paling tak terlihat. Akankah Keenan terus bertahan pada perasaannya, atau memilih melepaskan orang yang tak pernah melihatnya lebih dari seorang sahabat? ⚠️DILARANG PLAGIAT!!
All Rights Reserved
#48
acuh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines