Sejak kematian ibunya, hidup Jiang Heng dipenuhi kehampaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ayahnya tenggelam dalam pekerjaan dan membiarkannya tumbuh sendirian di rumah yang terasa dingin. Tidak ada yang peduli pada bagaimana Jiang Heng menjalani hari-harinya, sampai seorang guru pengganti bernama Li Pei En datang ke sekolahnya. Bagi Jiang Heng, Li Pei En bukan sekadar guru. Pria itu menjadi satu-satunya orang yang selalu ada untuk mendengarkan, menemani, dan perlahan mengisi kembali luka di hatinya. Bersama Li Pei En, Jiang Heng untuk pertama kalinya merasakan hangatnya perhatian dan memahami arti dicintai. Tanpa sadar, rasa kagum itu berubah menjadi cinta pertama yang begitu dalam. Namun semuanya hancur ketika Li Pei En tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Ia pergu tanpa kabar ataupun ucapan perpisahan. Jiang Heng yang baru belajar bangkit dari kehilangan kembali jatuh ke dalam luka yang lebih menyakitkan. Sejak saat itu, ia hidup dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab-mengapa Li Pei En meninggalkannya? Dua tahun berlalu. Kini Jiang Heng duduk di kelas tiga SMA dan berusaha menjalani hidup seperti biasa, meski bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya pergi. Sampai suatu malam, dunianya kembali runtuh ketika ayahnya memperkenalkan seseorang yang akan menjadi calon pasangan hidupnya. Orang itu adalah Li Pei En. Pertemuan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi mimpi buruk. Jiang Heng akhirnya mengetahui alasan di balik kepergian Li Pei En dua tahun lalu, tetapi kebenaran itu tidak membuat rasa sakitnya menghilang. Di tengah hubungan yang semakin rumit, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Perasaan yang dulu mereka pendam perlahan kembali muncul, sementara batas antara cinta, penyesalan, dan dosa semakin kabur. Di antara luka masa lalu dan hubungan yang mustahil, Jiang Heng dan Li Pei En harus memilih-melepaskan satu sama lain, atau mempertahankan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
More details