Pelarian

Pelarian

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 14, 2026
Bisma mengira hatinya telah mati. Sejak sang tunangan pergi dan memilih lelaki lain, ia membangun tembok es yang kokoh. Tidak ada wanita yang boleh masuk. Tidak ada ruang untuk patah hati kedua kali. Lalu, Alana datang. Gadis sederhana itu tidak punya kemewahan. Namun, ia memiliki kehangatan yang perlahan mengikis gletser di dada Bisma. Tatapan dingin Bisma mulai melembut. Sikap acuhnya berubah menjadi perhatian yang membuat Alana telanjur terbawa perasaan. Hingga Alana mulai percaya, ia adalah akhir dari masa lalu Bisma yang kelam. Tepat saat tembok es itu runtuh sepenuhnya, sang masa lalu kembali pulang dan permasalahan perbedaan di mulai. Wanita yang dulu menghancurkan Bisma kini berdiri di hadapannya, memohon kesempatan kedua. Bisma terjebak di persimpangan fatal. Haruskah ia mengejar bayang-bayang masa lalu yang belum usai, atau melangkah maju bersama Alana yang telanjur menggantungkan tali pengharapan padanya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines